Saturday, November 21, 2015

Pesan Nabi Muhamad SAW Untuk Orang Tua




Sebagai orang tua tentunya tidak mengingikan keturunan yang tidak baik, sebab anak adalah investasi jangka panjang dan amanah yang di berikan Allah swt. Celakalah kita apabila membiarkan anak-anak dalam kesulitan atau kebodohan. Untuk ketahuilah hal-hal apa saja sih yang harus dilakukan oleh orang tua yang sesuai dengan nasihat-nasihat Nabi Muhammad saw.

Perawi hadits ternama Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar ra. bahwa ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda : ”Seorang imam adalah pemimpin, dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya. Seorang lelaki adalah pemimpin di keluarganya, dan ia bertanggung jawab atas keluarga yang di pimpinnya. 

Seorang wanita adalah pemimpin dirumah suaminya, dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang pelayan adalah pemimpin harta milik tuannya dan ia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Masing-masing dari kalian adalah pemimpin, dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya.” Muttafaq ‘alaih

Fitrah Kelahiran Seorang Anak

Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Hurairah ra. berkata : Rasulullah saw bersabda : “Tiada seorang bayi pun yang lahir melainkan ia dilahirkan di atas fitrah. Lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi, Majusi atas Nasrani; seperti binatang itu melahirkan binatang yang sama secara utuh. Adakah kamu menemukan adanya kebuntungan? Kemudian Abu Hurairah ra. membaca firman Allah, Tetaplah pada fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus.” (Ar Rum : 30)

Surga Balasanya Bagi Orang Tua Yang Sabar Di Tinggal Mati Anaknya

Imam Tirmidzi meriwayatkan – dan ia menyatakan sebagai hadits hasan- dari Abu Musa Al-Asy’ari saw. bahwa Rasulullah saw. bersabda : Jika anak hamba meninggal dunia, maka Allah berkata kepada para malaikat, “Apakah kalian sudah mengambil nyawa putera seorang hambaKu?” Para malaikat menjawab, “Ya.” Allah bertanya lagi, “Lalu apa yang dikatakan oleh hambaKu?” Para malaikat menjawab, “Ia membaca hamdalah (memuji Allah) dan istirja’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un; kita ini milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali).” Allah kemudian berfirman, “Kalau begitu, bangunkan untuk hamba-Ku itu sebuah rumah di dalam surga dan namakan rumah tersebut dengan Baitul-Hamdi (Rumah Pujian).”

Bersedekah Dengan Memenuhi Kebutuhan Keluarga

Imam Ahmad meriwayatkan dengan isnad jayyid dari Miqdam bin Ma’dikarib ra. bahwa ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Makanan yang engkau makan sendiri adalah sedekah bagimu; makanan yang engkau berikan kepada anakmu adalah sedekah bagimu; makanan yang engkau berikan kepada istrimu adalah sedekah bagimu; dan makanan yang engkau berikan kepada pelayanmu adalah sedekah bagimu.


Larangan Membunuh Anak karena Takut Miskin

Dalam shahihain disebutkan riwayat dari Abdullah bin Mas’ud bahwa ia berkata, “Saya tanyakan kepada Rasulullah, “Dosa apakah yang paling besar?” Beliau menjawab, “Bila engkau jadikan tandingan bagi Allah, sedangkan Dia yang telah menciptakanmu.” Saya tanyakan lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Jika engkau bunuh anakmu karena takut bila makan bersamamu.” Saya tanyakan, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Jika engkau berzina dengan isteri tetanggamu.”

Berdo’a Kebaikan Ketika Meminta Keturunan

Bukhari dalam shahihnya (Bab Thalab al Walad lil Jihad; Anak yang minta izin berjihad) dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sulaiman bin dawud as. pernah berkata, “Sungguh aku akan menggilir seratus isteriku dalam semalam –atau Sembilan puluh Sembilan- yang masing-masing akan melahirkan penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah!” Saudaranya kemudian berkata, “Katakanlah InsyaAllah!” Namun ternyata Sulaiman tidak mengucapkan InsyaAllah, dan akhirnya tidak seorangpun dari mereka yang hamil kecuali satu orang saja yang melahirkan seorang anak yang tidak sempurna. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada ditangan-Nya, andaikan saja ia mau mengucap InsyaAllah, tentu dari mereka akan lahir para penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah seluruhnya.”

Anjuran Rasulullah Untuk Berdo’a Meminta Anak

Thabrani meriwayatkan dari Hafsah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian meninggalkan do’a meminta anak, karena sesungguhnya seorang itu jika meninggal dan ia tidak punya anak, maka namanya terputus.”


Bersikap Lembutlah, Maka Allah akan Memberikan Kebaikan Bagi Keluarga

Imam Ahmad meriwayatkan dari A’isyah ra. bahwa Rasulullah saw. berkata kepadanya : “Wahai A’isyah bersikap lembutlah, karena sesungguhnya Allah itu jika menghendaki sesuatu kebaikan pada sebuah keluarga, maka Allah menunjukkan kepada mereka sifat kelembutan ini.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Jika Allah menghendaki kebaikan pada suat keluarga, maka Allah memasukkan rasa kelembutan ke dalam hati mereka.”

Sayangilah Anak

Al Bazzar meriwayatkan dari Ibnu Umar ra. dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda : “Sesungguhnya setiap pohon itu ada buahnya, dan buahnya hati itu adalah anak. Sesungguhnya Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak menyayangi anaknya. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangannya, tidak akan masuk surga kecuali orang yang penyayang.” Kami tanyakan, “Ya Rasulullah saw. sesungguhnya kami semua adalah penyayang.” Nabi bersabda, “Yang namanya sayang itu bukanlah seseorang di antara kalian menyayangi temannya, akan tetapi kasih sayang yang sesungguhnya adalah menyayangi semua manusia.

Peringatan Kepada Imam Shalat Ketika Ada Anak Kecil yang Menjadi Makmumnya

Dalam Shahihain disebutkan riwayat hadits dari Abu Mas’ud Uqbah bin Umar Al Badri ra. bahwa ia berkata, “Pernah ada seseorang yang datang menghadap Nabi saw. lalu berkata, “Sesungguhnya aku terlambat mengerjakan shalat shubuh karena si Fulan yang menjadi imam memanjangkan shalat.” Maka aku belum pernah melihat beliau marah dalam memberikan petuah melebihi kemarahan beliau ketika itu. Beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya di antara kalian terdapat orang-orang yang membuat lari. Maka siapa saja di antara kalian yang mengimami shalat orang banyak, hendaklah ia mempersingkat, karena di belakangnya terdapat orang tua, anak kecil dan orang yang punya kepentingan lain.”

Anak yang Shalih Merupakan Investasi Pahala Orang Tuanya

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika seorang manusia telah meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga hal : sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan.”
Pesan Nabi Muhammad Untuk Orang Tua


Dan masih banyak lagi pesan-pesan nabi Muhammad SAW untuk para orang tua, kiranya kita dapat mengambil hikmah dari yang sudah dijelaskan di atas.

Friday, November 20, 2015

Nasihat Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra


Khalifah Umar bin Khattab ra adalah legenda kepemimpinan dan ketaqwaan, masa mudanya berada dalam kerusakan. Sebagai preman paling ditakuti di Pasar Ukaz di Kota Mekkah pada saat itu. Dan setelah menerima hidayah Islam beliau berubah 180 derajat. Namanya kini melegenda menempati urutan ke 51 sebagai orang yang paling berpengaruh sepanjang masa menurut penulis barat terkenal bernama Michael H. Hart. Berikut nasihatnya yang sangat berharga.

Barangsiapa takut kepada Allah SWT nescaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut pada Allah, tidak sia-sia apa yang dia kehendaki. ~ Sayidina Umar bin Khattab

Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya. Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina. Orang yang mencintai akhirat, dunia pasti menyertainya.
Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga. ~ Sayidina Umar bin Khattab

Manusia yang berakal ialah manusia yang suka menerima dan meminta nasihat.-Umar bin Khatab-
Umar bin Khattab: “duduklah dengan orang-orang yang bertaubat, sesungguhnya mereka menjadikan segala sesuatu lebih berfaedah.” (Tahfdzib Hilyatul Auliya I/71)
Umar bin Khattab: “Kalau sekiranya kesabaran dan syukur itu dua kendaraan, aku tak tahu mana yang harus aku kendarai.” (Al Bayan wa At Tabyin III/ 126)
Umar bin Khattab: “Sesungguhnya kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka janganlah kita mencari kemuliaan dengan selainnya.” (Ihya’ Ulumuddin 4/203)

Umar bin Khattab: “Hendaklah kalian menghisab diri kalian pada hari ini, karena hal itu akan meringankanmu di hari perhitungan.” (Shifatush Shafwah, I/286)
Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar. ~ Khalifah ‘Umar
Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku. ~ Khalifah ‘Umar

Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah.Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar. ~ Sayidina Umar bin Khattab

Barangsiapa yang jernih hatinya, akan diperbaiki Allah pula pada yang nyata di wajahnya.-Umar bin Khatab-

Barangsiapa menempatkan dirinya di tempat yang dapat menimbulkan persangkaan, maka janganlah menyesal kalau orang menyangka buruk kepadanya.-Umar bin Khattab-

Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata lemah-lembut.-Umar bin Khattab-
Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar.-Umar bin Khatab-

Terima kasih telah membaca artikel: Nasihat AmirulMukminin Umar bin Khattab ra

Wednesday, November 18, 2015

Ingin Cepat Kaya, Dirikanlah Shalat Dhuha...


Image result for site:blogspot.com sukses dunia dengan shalat dhuha

Shalat adalah merupakan kunci utama dalam beribadah. Baik buruknya perilaku seseorang bisa dilihat dari shalatnya, bahkan amal ibadah yang pertama di hisab di yaumil mahsyar nanti adalah ibadah shalatnya. Sebab shalat adalah bentuk abdi manusia kepada Allah swt selaku penciptanya, sudah menjadi konsekuensi apabila anda muslim maka anda wajib mendirikan shalat. selain kunci utama dalam beribadah, shalat pun merupakan komunikasi antara seorang muslim dan Allah swt.

Bukan tanpa alasan kenapa Allah swt memerintah nabi Muhammad untuk ummatnya mendirikan shalat, coba anda kaji dari pertama kali anda mendirikan shalat. bukankah do'a-do'a yang ada di dalmnya. 
Dari kita mendengar seruan adzan, anda di haruskan menjawab setiap kalimat adzan itu. dan pada kalimat-kalimat adzan itu sudah jelas sekali ada interaksi antara Allah swt dan mahluknya. 

Lalu beranjak mengambil air wudlu, Allah swt memerintahkan hambanya untuk suci dari hadats kecil. belum lagi ayat-ayat do'a yang anda baca ketika berwudlu, bukankah itu juga do'a yang anda panjatkan kepada Allah swt. 

Selain shalat-shalat yang wajib, ada juga shalat-shalat sunnah yang tidak kurang manfaatnya. bahkan shalat sunnah memiliki nilai yang sangat tinggi di hadapan Allah swt, sebab apabila anda mendirikan shalat sunnah berarti anda telah patuh kepada ajaran nabi Muhammad saw. 

Sebab barang siapa yang mendirikan sunnah-sunnah nabi-Nya maka ia termasuk golongan orang beriman, dan bukankah kita menginginkan termasuk kepada golongan yang beriman.
Dan ingat Allah swt senantiasa akan memberi kecukupan bagi hambanya yang mendrikan shalat dengan penuh ke khusyuan. Dan tahukah anda ,ada rahasia sukses dunia di balik shalat sunnah Dhuha yang sering nabi Muhammad saw dirikan.
ingin tahu rahasianya, yuk di lanjut bacanya....

Image result for site:blogspot.com sukses dunia dengan shalat dhuha

Pertama, shalat Dhuha merupakan ekspresi terima kasih kita kepada Allah Swt. atas nikmat sehat bugarnya setiap sendi dalam tubuh kita. Menurut Rasulullah Saw., setiap sendi dalam tubuh kita yang jumlahnya 360 ruas setiap harinya harus diberi sedekah sebagai makanannya.

“Pada setiap manusia diciptakan 360 persendian dan seharusnya orang yang bersangkutan (pemilik sendi) bersedekah untuk setiap sendinya.” Lalu, para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah Saw., siapa yang sanggup melakukannya?” Rasulullah Saw. menjelaskan, “Membersihkan kotoran yang ada di masjid atau menyingkirkan sesuatu (yang dapat mencelakakan orang) dari jalan raya, apabila ia tidak mampu maka shalat Dhuha dua rakaat dapat menggantikannya.” (H.R. Ahmad dan Abu Daud)

Kedua, shalat Dhuha merupakan wahana pengharapan kita akan rahmat dan nikmat Allah Swt. sepanjang hari yang akan dilalui, entah berupa nikmat fisik maupun materi. Rasulullah Saw. bersabda, “Allah berfirman, ‘Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas melakukan shalat empat rakaat pada pagi hari, yaitu shalat Dhuha, niscaya nanti akan Kucukupi kebutuhanmu hingga sore harinya.’” (H.R. Al-Hakim dan At-Tabrani)


Lebih dari itu, momen shalat Dhuha merupakan saat kita mengisi kembali semangat hidup baru. Kita berharap semoga hari yang akan kita lalui menjadi hari yang lebih baik dari hari kemarin. Di sinilah ruang kita menanam optimisme hidup. Kita tidak sendiri menjalani hidup ini. Ada Sang Maharahman yang senantiasa akan menemani kita dalam menjalani hidup sehari-hari.

Ketiga, shalat Dhuha sebagai pelindung untuk menangkal siksa api neraka di hari pembalasan (kiamat) nanti. Hal ini ditegaskan Nabi Saw. dalam haditsnya, “Barangsiapa melakukan shalat Fajar, kemudian ia tetap duduk di tempat shalatnya sambil berdzikir hingga matahari terbit dan kemudian ia melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat, niscaya Allah Swt. akan mengharamkan api neraka untuk menyentuh atau membakar tubuhnya.” (H.R. Al-Baihaqi)

Keempat, bagi orang yang merutinkan shalat Dhuha, niscaya Allah mengganjarnya dengan balasan surga. Rasulullah Saw. bersabda, “Di dalam surga terdapat pintu yang bernama Bab Adh-Dhuha (Pintu Dhuha) dan pada hari kiamat nanti ada yang akan memanggil, ‘Dimana orang yang senantiasa mengerjakan shalat Dhuha? Ini pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang Allah.’” (H.R. At-Tabrani)

Kelima, pahala shalat Dhuha setara dengan pahala ibadah haji dan umrah. “Dari Abu Umamah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barangsiapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan umrah.’” (Shahih Al-Targhib: 673). Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan bahwa, “Nabi Saw. bersabda, ‘Barangsiapa yang mengerjakan shalat Fajar (Shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat (Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna.’” (Shahih Al-Jami: 6346)

Keenam, tercukupinya kebutuhan hidup. Orang yang gemar melaksanakan shalat dhuha ikhlas karena Allah akan tercukupi rezekinya. Hal ini dijelaskan Rasulullah Saw. dalam hadits qudsi dari Abu Darda. Firman-Nya, “Wahai Anak Adam, rukuklah (shalatlah) karena aku pada awal siang (shalat Dhuha) empat rakaat, maka aku akan mencukupi (kebutuhan)mu sampai sore hari.” (H.R. Tirmidzi)

Ketujuh, memperoleh ghanimah (keuntungan) yang besar. Dikisahkan, Rasulullah mengutus pasukan muslim berperang melawan musuh Allah. Atas kehendak Allah, peperangan pun dimenangkan dan pasukan tersebut mendapat harta rampasan yang berlimpah. Orang-orang pun ramai membicarakan singkatnya peperangan yang dimenangkan dan banyaknya harta rampasan perang yang diperoleh. Kemudian Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa ada yang lebih utama dan lebih baik dari mudahnya memperoleh kemenangan dan harta rampasan yang banyak yaitu shalat Dhuha.

“Dari Abdullah bin Amr bin Ash ia berkata, Rasulullah Saw. mengirim pasukan perang. Lalu, pasukan itu mendapat harta rampasan perang yang banyak dan cepat kembali (dari medan perang). Orang-orang pun (ramai) memperbincangkan cepat selesainya perang, banyaknya harta rampasan, dan cepat kembalinya mereka. Maka, Rasulullah Saw. bersabda, ‘Maukah aku tunjukan kepada kalian sesuatu yang lebih cepat dari selesai perangnya, lebih banyak (memperoleh) harta rampasan, dan cepatnya kembali (dari medan perang)? (Yaitu) orang yang berwudhu kemudian menuju masjid untuk mengerjakan shalat sunat Dhuha. Dialah yang lebih cepat selesai perangnya, lebih banyak (memperoleh) harta rampasan, dan lebih cepat kembalinya.’” (H.R. Ahmad)

Menilik banyaknya fadhilah di atas, cukup beralasan kiranya bila Nabi Saw. menghimbau umatnya untuk senantiasa membiasakan diri melaksanakn shalat Dhuha. Dengan mengetahui fadhilah-fadhilah tersebut, diharapkan kita lebih termotivasi untuk beristiqamah melaksanakan shalat Dhuha agar tercapai tujuan bahagia dunia dan akhirat. Amin.

7 Nasihat Menuju Kebahagiaan Rumah Tangga



Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. [QS. Ar-Rum ayat 21]

Hadis Nabi saw :

فال رسول الله صلى عليه وسلم : النكاح سنتى فمن رغب عن سنتي فليس منى 

Pernikahan adalah perbuatan yang selalu diinginkan dan didambakan oleh setiap manusia yang hidup. Pernikahan itu adalah sunnah Nabi [النكاح سنتى], maka barang siapa yang tidak melaksanakan nikah, kata Nabi saw bukan golongannya [فمن رغب عن سنتئ فليس منى]. Pernikahan harus didasarkan pada agama, ibadah, dan menjalankan sunnah Nabi saw, dan bukan didasarkan pada nafsu belaka atau didasarkan tujuan lain yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. 

Pernikahan harus atas dasar suka sama suka, saling cinta, bukan dasar paksaan, dan bersandar pada ibadah kepada Allah. Sebab, dalam menjalani kehidupan bahtera rumah tangga, bagaikan orang mengarungi samudra luas dan penuh dengan gelombang, pada siang, malam, panas dan hujan bahkan badai dan genlombang harus dilalui. Mungkin saja, cuaca tidak bersahabat yang tidak pernah kita prediksi yang dapat saja datang secara tiba-tiba.Kita harus selalu siap untuk menghadapi dan selalu mengantisipasi setiap perubahan. Maka, apabila seseorang dalan menjalankan rumah tangga tidak memiliki dasar, pedoman, mesti akan terombang-ambing dalam perjalanan rumah tangganya.

Dalam berumah tangga, kita akan melalui perjalanan panjang dan sangat melelahkan dengan tujuan untuk mecapai “pantai kebahagiaan” yang sakinah dan diridhoi Allah.. 
Untuk mencapai “pantai kebahagian” tersebut, tentu saja kita harus:
[1] mempersiapkan diri dan mental, baik suami maupun istri, 
[2] mempersiapkan berbagai keperluan dan bekal agar perjalanan kita terasa aman, nyaman, dan lancer, sebab apabila datang badai dan gelombang, kita akan siap menghadapinya dengan sikap tenang, tidak grogi, tidak takut dan tidak gentar sekalipun dahsatnya badai dan gelombang tersebut, sebab kita memiliki dasar [agama] dan pedoman[al-Qur’an dan Hadis]. 

Untuk mengarungi perjalanan [rumah tangga] itu dengan baik dan lancar, kita perlu mempersiapkan :
Pertama, kapal [rumah tangga] yang kokoh agar tidak macet dalam perjalanan.
Kedua, mesin yang betul-betul baik.
Ketiga, bahan bakar yang cukup dan memadai.
Keempat, membawa peta dan kompas sebagai pedoman perjalanan agar tidak sesat dalam perjalanan. Kelima, membawa peralatan yang memadai untuk mengantipasi macet.
Keenam, nahkoda yang pandai, lihai, dan memiliki strategi untuk mengemudi kapal.
Ketujuh, membawa bekal yang cukup dalam perjalanan.


Pertama : 
Rumah Tangga [الاسرة ], bagaikan kapal [bahtera] yang kokoh. Rumah tangga, harus dibangun atas dasar taqwa, cinta, suka sama suka dan didukung dengan kedua belah pihak keluarga yang merestui serta mengharapkan ridho Ilahi. Selain itu, harus mempunyai niat dan kebulatan tekad untuk berumah tangga atas dasar lillahita’ala, dengan ibadah [salat] – Insya Allah, rumah tangga akan kokoh. Berumah tangga itu sendiri juga sebagai perilaku ibadah kepada Allah dan menjalankan sunnah Nabi saw [النكاح سنتى ].


Kedua : 
Hati [ القلب], sebagai mesin yang bagus. Artinya, suami istri harus punya tujuan yang sama. Berumah tangga bukan untuk hanya sekedar melepas nafsu birahi, melainkan harus memiliki tujuan untuk mencetak generasi-generasi bangsa yang baik, kuat dan tanggung serta bertaqwa kepada Allah swt. Tanpa punya perasaan sehati, mungkin saja tujuan tidak akan tercapai. Maka dengan dasar ini, suami istri harus tahun kepribadian masing-masing dan inilah yang dinamakan ta’aruf [تعارف ].


Ketiga : 
Akhlak [الاخلاق], sebaga bahan bakar. Dalam berumah tangga, apabila hanya berbekal atau memiliki cinta dan perasaan saja, tanpa dibekali dan atau dibarengi dengan akhlak mulia, jangan berandai-andai untuk dapat menguasai medan perjuangan yang berat itu. Akhlak adalah pondasi utama dalam beragama, kata Abul Atahiyah : ليست الدنيا الا بدين وليس الدين الابمكارم الاخلاق , artinya ”tidaklah dikatakan dunia kecuali dengan agama dan tidaklah dikatakan agama kecuali dengan akhlak mulia”. Maka, kita harus membangun rumah tangga dengan akhlak yang muliah. Akhlak sebagi pondasi utama untuk membangun rumah tangga. Prinsip akhlak disini adalah saling menghargai, menghormati, menyayangi, penuh dengan senyum. Sifat ini dinamakan tabassum [التبسم] dan sifat ini sangat dianjurkan Rasulullah saw.


Keempat :

القران الكريم والحديث sebagai peta dan kompas. Sebagai pedoman agar tidak tersesat dalam perjalanan dan ketika menemukan kesulitan, keresahaan, bacalah al-Qur’an dan kemudian kembalikan atau pasrah kepada Allah. Suami dan istri harus saling mengingatkan dan ta’awun atau kerjasama dalam menghadapi kesulitan hidup. Semua persoalan harus diselesaikan berdua dan selalu pasrah kepada Allah. Kata Baihaki, ان ذ كرالله شفاء , ingat pada Allah sebagai obat, dan وان ذكرالناس داء ingat pada manusia penyakit. [البيهقي ].



Kelima :
Nasehat [النصيحة], sebagai peralatan yang dibawa dalam perjlanan. Agama adalah nasehat [الدين النصيحة], maka kembali kepada ajaran agama Islam dalam menghadapi setiap persoalan, sehingga mudah terselesaikan. Maka dalam kehidupan rumah tangga, sepenuh apapun perasaan cinta suami pada istri atau sebaliknya, kesalah fahaman dan perselisihan [baik kecil maupun besar] mesti ada. Suami dan istri harus saling mengingatkan, saling menasihati dengan sabar antara keduanya untuk mencapai kebaikan وتواصو بالحق وتواصو بالصبر ( dan bernasehatlah dalam kebaikan dan kesabaran ) atau mungkin kita butuh nasehat-nasehat orang tua, ustadz, tokoh masyarakat, atau orang yang lebih berpengalaman, sebagai obat pencerahan untuk mencapai tujuan hidup yang mungkin salah dilakukan oleh kita. Maka, setelah mendapatkan nasehat-nasehat akan tumbuh saling percaya, saling memaafkan, dan menghargai kesalah fahaman itu. Sikap ini dinamakan takarrum [التكارم] atau saling menghargai.


Keenam : 
Suami [الزوج ], sebagai nahkoda yang lihai. Suami harus pandai memainkan peranan, dapat menjadi panutan, cerdas melihat situasi, agar penumpang atau orang yang bersamanya merasa aman, tenang dan nyaman. Seorang suami harus memiliki ikhtiar dalam menjalankan perannya, sehingga seburuk apapun situasi dan kondisi yang dihadapinya, harus tenang, sabar, dan berserah diri pada Allah [يبتغون فضلا من الله ورضوانا ], “mereka mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya”. Maka perumpamaan seorang suami, seperti seorang nahkoda yang menghadapi cuaca yang buruk. Dia harus tetap tenang untuk mencapai tujuan, maka secara perlahan-lahan tapi pasti dia akan lalui badai tersebut dan seluruh penumpang pasti akan menghormati dan menghargainya. Penghargaan itu akan datang dengan sendirinya, mungkin saja berupa ucapan terima kasih, mungkin ciuman, pelukan, bahkan dengan kepasrahan diri penumpang dan penumpang tersebut tiada lain adalah istri. Sikap ini dinamakan tala’ub [التلاعب ].


Ketujuh :
Kepasrahan [التسليم], sebagai bekal yang cukup. Dalam menjalani kehidupan rumah tangga, kita harus banyak berusaha [bekerja] dan berdo’a (وابتغ فيما اتاك الله الدار الأخرة ولا تنس نصيبك من الدونيا وأحسن كما احسن الله إليك) " . “ carilah anugrah Allah untuk kehidupan akhirat, tetapi jangan lupa nasib(bagian)mu untuk kehidupan dunia dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik padamu”. Karena usaha atau bekerja tanpa do’a akan sia-sia, dan begitu juga sebaliknya do’a tanpa usaha atau bekerja adalah mimpi atau angan-angan belaka. Suami harus berusaha mencari nafkah untuk menghidupi istrinya. Suami dan istri harus dapat bekerja sama untuk melindungi perjalanan yang panjang, seorang suami tahu kebutuhan istri dan begitu sebaliknya istri tahu kebutuhan suami. Dengan demikian, akan terbangun sikap saling menghargai dan toleransi dalam berumah tangga. Sifat ini dinamakan tasamuh [التسامح].



Ketujuh nasihat ini, dinamakan “Resep agar tetap bahagia”, bertujuan yang jelas, pasti, dan sampai dengan selamat di atas Ridho Ilahi Robbi.


Semoga kita bisa mengambil hikmah dari catatan ini

Rumah Tangga Hancur Karena BB dan FB


Image result for site:blogspot.com rumah tangga muslimah hancur

Namaku Lely seorang Ibu rumah tangga dengan dua anak. Umur 26 thn tapi banyak yang bilang aku masih seperti gadis.
Di sela-sela kesibukanku bekerja di konveksi, aku coba buka BB baru pemberian suamiku. Tak lupa ku coba buka akun facebookku. Kangen rasanya seru-seruan dengan teman-teman SMA dulu.
Dari fb, ku mengenal laki-laki. Pemuda yang sukses dengan perdagangan dan pendidikannya.
Awalnya kami cuma saling like status lama kelamaan beralih saling berkirim pesan. Dalam pesan-pesan yang singkat kami pun saling rinci keadaan. Meski dia tahu aku istri dan ibu dari anak 4thn, dia tetap manis menanggapinya.
Dari situ, kami teruskan kirim pesan dengan saling berikan pin BB. Kirim foto dan berujung pada janjian adakan pertemuan.
Aku benar-benar khilaf dan terbuai suasana. Dia memang lebih ganteng dari suamiku dan tak segan-segan memberikan sepatu, seragam sekolah, seragam olah raga dan tas mahal untuk anakku. Bayangkan untuk membeli barang tsb dia rela merogoh ATM nya. Aku begitu terharu.
Itulah awal pertemuanku. Hari berikut koment-komentny a mulai sedikit genit dan nakal. Dan anehnya aku makin terhibur dengan inbok-inbok nakalnya. Mulailah setan merayapiku. Aku tak segan-segan memberi foto telanjang dada permintaannya.
Malam-malam yang ada penuh bunga-bunga bangkai bertebaran. Invite BB, FB dan mention twitter begitu berani, vulgar dan menantang birahi. Aku gak menyangka, meski sudah beranak satu tapi masih ada perjaka yang menyukai.
Belum lagi, di profilnya dia merupakan mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di jogjakarta.
Minggu itu, di pertemuan kedua, kami sudah langsung cek in hotel di kotaku jakarta. Sebulan dia di jakarta membuat kami sering adakan pertemuan hingga sampai pertemuan ke delapan.
3 bulan berlalu, aku mulai hamil. Aku merasa biasa saja. Tapi kedua orang tuaku bingung dan mempermasalahkan. Pasalnya, sudah setahun suamiku kerja di pengeboran lepas pantai luar jawa. Dan sudah barang tentu tak pernah setahun ini menyentuhku.
Aku tetap bilang pada mereka, bahwa ini adalah janin suamiku. Tapi kedua orang tuaku tetap menuduhku melakukan serong. Akhirnya, suamiku pun dituntut pulang.
Tanpa basa-basi, suamiku pun cek BB dan FB ku. Aku demikian bingung dan panik. Masih ada pesan-pesan nakal ku di situ. Aku menangis sejadi-jadinya. Menyembah-nyemb ah, bertekuk lutut di hadapan suami dan kedua orang tua kandungku.

"Menantuku, cepat ceraikan dia, biarlah aku kehilangan anak gadis dari pada kehilangan menantu dan cucu sebaik kamu." kata ibuku
"Dan kamu..!" ibu menudingku dengan mata berair. "Pergilah kemana kau mau, sekarang juga. Dan jangan pernah kau tampakkan wajah menjijikkanmu di hadapanku dan keluargaku."
Aku keluar rumah dengan tangisan anakku. Bahkan untuk memelukpun aku tak diizinkan. Ku coba minta pertanggung jawaban dari lelaki itu, namun BB FB nya sudah tak aktif lagi. Ku beranikan diri datang ke jogja kampus dimana dia kuliah. Di KABAG kemahasiswaan, ternyata tak menemukan nama yang ku maksud.
Aku tunjukkan foto wajahnya, dan ternyata tiada ditemui wajah yang seperti itu. Aku menangis sejadi-jadinya. Kandunganku sudah hampir 6 bulan. Uang sangu pun menipis. Tak tahu kemana arah diuntung. Tak tahu Kemana nasib akan menuntun.
BB dan FB benar-benar memporak porandakan rumah tanggaku.
@ ibu-ibu, bapak-bapak dan sahabat JI yang baik, gunakan BB FB sesuai kebutuhan kemanfaatan, bila anda tak ada manfaaatnya demi keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga anda, maka tinggalkan FB, chating dan invite BB.
Silahkan share demi kebahagiaan rumah tangga orang-orang terdekat anda.